every man entitled to his own way to submit, this is my way.

Friday, July 27, 2007

Tiga Ekor Kambing

Renungan Tiga Ekor Kambing

Pada suatu masa ada tiga ekor kambing kakak beradik terpisah dari ibu
bapaknya. Si A diambil oleh seorang raja yang soleh dan dididik untuk
bertingkah laku sopan santun dan ditugaskan untuk menghias kebun Raja
yang dimuliakan rakyatnya. Si B di perlihara oleh seorang jendral
koruptor yang zolim, dibuatnya untuk menjadi gemuk dan dipamerkan
untuk dipotong pada hari raya korban sebagai unjuk rasa kebajikan si
koruptor dimata orang yang tertindas olehnya. Si C, terlantar sampai
pada suatu waktu ditabrak oleh truk dan bangkainya terhampas kesungai
dibawa arus entah kemana.
Sewaktu mereka semua sudah mati mereka bertemu di alam akhirat. ABC
menanyakan tentang kedudukan siapa yang paling beruntung dimata Yang
Kuasa. A mengklaim dirinyalah yang paling mulia dikarenakan
pendidikannya dan loyalitasnya dalam menjaga taman raja dengan tekun
dan berbakti. A tidak pernah lalai dalam melaksanakan tugasnya. B
menjawab walaupun sejelek-jeleknya dia, dan diberimakan dari uang
haram, tetapi akhir hayatnya dia disantap oleh fakir miskin yang
begitu mendambakan kelezatannya. C, juga tidak mau kalah dan bilang
selama masa hidupnya dia sudah selalu susah dan sial, maka akan tidak
adil sama sekali bila Yang Maha Adil tidak memberi tempat yang enak di
alam akhirat ini. Jawabannya mungkin tidak pernah kita temukan karena
pertanyaan tersebut juga hanya berandai-andai.
Pertanyaan serupa juga pernah ditanyakan al-Ashari kepada gurunya
yang seorang Mutazilah pada tahun 913 Masehi. Pertanyaan yang
terkenal pada dunia phillosophy tersebut adalah seperti ini
(diterjemahkan dari Cyril Glasse), "Ada sebuah kisah tiga kakak
beradik, yang pertama seorang beriman dan berbuat baik, yang kedua
adalah pendosa, dan yang ketiga meninggal sewaktu bayi. Apa yang akan
terjadi padanya?" tanya al-Ashari. Gurunya menjawab, "yang beriman ke
Surga, yang pendosa ke Neraka, dan yang meninggal sewaktu bayi ke
Limbo (tempat antara keduanya)." Kemudian si murid melanjutkan,
"karena Mutazillah percaya apa yang dipilih oleh Allah adalah yang
terbaik untuk umatnya, mengapa si bayi meninggal?" "Karena," lanjut
gurunya lagi, "Tuhan tahu kalau si Bayi akan menjadi pendosa besar
pada waktu dewasa nanti, sehingga dimatikan oleh Tuhan pada waktu
kecilnya, sebuah langkah yang bijaksana." Si Murid menutup
pertanyaannya dengan, "Kalau begitu mengapa Tuhan tidak mematikan si
pendosa sewaktu kecil sehingga dia tidak perlu dihukum pada akhir
hayatnya?"
Firman Allah ada yang menyebutkan tidak akan sebuah kaum untuk
berubah tanpa usaha kemauan dari kaum itu sendiri. Ahl-alKitab
(Nasrani) juga mengenal sebuah kisah dari kitab sucinya yang
menceritakan tiga orang pada waktu bersamaan diberi uang oleh
majikannya. Setelah sekian waktu, si A
(consumerism) menyisakan uang tersebut sedikit karena dipakai untuk
membeli makanan; B (risk avoider)menyimpan uang tersebut sehingga
tidak berkurang, dan si C (entrepreneur) mengembalikan uang tersebut
lebih karena ada hasil keuntungan. Di jelaskan disini si C mempunyai
tempat yang lebih mulia dimata si tuan dan juga Tuhan. Pada agama
Islam juga dikenal sebuah hadits yang sangat relevan untuk waktu kini,
yakni apabila kita lebih baik dari kemarin, kita termasuk kaum yang
beruntung, jikalau tetap maka kita kaum yang merugi, dan jika lebih
buruk kita adalah kaum yang celaka. Sudah berapa harikan bangsa
Indonesia keadaannya lebih buruk dari kemarin? Apakah posisi kita yang
sudah terjajah hutang menjadikan kita tergolong sebagai bangsa yang celaka?
Apakah pertanyaan si kambing relevan dengan pertanyaan manusia yang
mencoba untuk menganalisa apakah Tuhan itu Maha Adil? Atau kita sudah
lupa terhadap fungsi manusia sebagai wakil (as contrary to Hamba)
Allah, dimana manusia sebagai mahluk tertinggi dimata Allah diatas
dari mahluk lainnya mempunyai suatu previlige yakni kemerdekaan dalam
menentukan nasibnya sendiri?
Apakah mungkin simbolisme Tuhan untuk batal mengorbankan manusia pada
masa Nabi Ibrahim sebagai tantangan Manusia untuk tidak menjadi
manusia yang terjajah, sehingga si Kambing (domba or whatever) yang
dikorbankan? Apakah dengan demikian sangat tidak relevan untuk kita
menanyakan, meratapkan keterbelakangan kita kepada Allah, karena kita
bukanlah perwakilan ketiga kambing tersebut?

Jawabanya Wallahualam.

About Me