every man entitled to his own way to submit, this is my way.

Friday, July 27, 2007

Fitrah Warna Warni

Kita masih ingat dengan jelas di tahun 2002 ada media yg menayangkan iklan Islam Warna Warni di somasi:

"Mengapa orang meributkan somasi kami. MMI tak melakukan anarki. Somasi inilah jalan yang diberikan demokrasi. Berbeda halnya bila kami sudah menjadi penguasa." Demikian dalih Fauzan al-Anshari ketika banyak pihak yang menyesalkan sederet somasi yang ia layangkan menyangkut iklan Islam Warna-warni, iklan kondom dan entah apa lagi. Benar bahwa setiap kelompok dan individu berhak menyampaikan keberatan atas tayangan suatu iklan dengan membuat somasi kepada pihak terkait. Dalam kasus ILM KIUK, MMI tidak melayangkan ketidaksetujuannya pada KIUK, tak juga kepada Garin Nugroho dan SET sebagai pembuat, tapi mensomasi media yang menayangkan ILM tersebut. (Koran Tempo, 28 September 2002)

Namun pada tahun ini juga banyak organisasi Islam cukup intensif untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat kalau penetapan 1 Syawal yg berbeda juga merupakan warna warni dalam Islam yg memberikan rahmat dalam perbedaan.

Meskipun terjadi perbedaan dalam pelaksanaan hari raya Idul Fitri, Ketua MPR RI Hidayat mengingatkan umat Islam agar tetap menjaga tali silaturahmi.
"Jangan sampai perbedaan ini menjadi bibit yang membuat umat Islam saling menjauh dari silaturahmi," kata Ketua MPR Hidayat Nurwahid ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu (22/10).
Menurutnya, perbedaan ini harus disikapi secara bijaksana oleh umat Islam sehingga tidak menimbulkan sikap yang kurang simpatik kepada masing-masing pihak yang melaksanakan Idul Fitri secara tidak bersamaan tersebut.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menyesalkan masih adanya sejumlah pihak yang bersikap berlebihan menyikapi perbedaan pelaksanaan Idul Fitri 1427 Hijriyah terutama di kalangan bawah pemerintahan.
"Saya mendapat informasi ada bupati yang melarang penggunaan alun-alun untuk salat Id pada Senin (23/10) ini dengan alasan harus ikut Idul Fitri yang ditetapkan oleh pemerintah," kata Din Syamsuddin usai menyampaikan ceramah Salat Id di Lapangan Blok S Jakarta Selatan, Senin.
"Oleh karena itu saya berpendapat sebaiknya kapan-kapan pemerintah tidak perlu ikut campur. Jangan mengurusi masalah seperi itu, sebab nantinya akan ada sikap-sikap over acting di tingkat bawah," tegasnya.
Meski demikian, Din mengimbau pada semua pihak untuk tidak memperuncing perbedaan dan justru harus mencari persamaan, serta sebaiknya dikaitkan dengan masalah Khilafiyah.


Saya ingin mengutip tulisan saudara Luthfi Assyaukanie

"Islam Warna-warni" adalah sebuah ungkapan yang ditemukan tak hanya berdasarkan pilihan eksotisme kata-kata semata, tapi juga berdasarkan dalil teologis (kalamiyyah), fikih (fiqhiyyah), maupun sosiologis (ijtimaiyyah) yang dirujuk ketika rancangan iklan itu dibuat. Dengan kata lain, slogan ini merupakan hasil renungan atas doktrin esensial Islam dan kenyataan sejarah Islam itu sendiri.
Secara teologis, Islam selalu hadir dalam bentuk yang tidak pernah seragam. Sejak wafatnya Nabi Muhammad, umat Islam selalu dihadapkan pada beragamnya keyakinan (akidah) umat Islam, baik mengenai ketuhanan, kenabian, wahyu, maupun persoalan-persoalan ghaybiyyat lainnya. Secara teologis, Islam selalu hadir dalam wajahnya yang beragam, dalam bentuk Murjiah, Syiah, Khawarij, Muktazilah, maupun Ahlussunnah.
Tradisi keilmuan fikih juga memiliki keragaman wajah Islam yang tak ada tara bandingnya. Fikih selalu memegang tradisi aktsaru min qaulayn (lebih dari dua pendapat), yang berarti selalu ada kemungkinan kebenaran lain di luar kebenaran yang kita yakini.
Sebuah hadis Nabi mengatakan: la yafqahu al-rajulu hatta yara fi al-qur'ani wujuhan katsiratan (tidak dianggap faqih seseorang sehingga ia melihat banyak dimensi dalam Al-Quran). Perbedaan pendapat adalah inti dari ajaran fikih. Karenanya, kita tak bisa berbicara tentang satu Islam secara fikih.
Secara sosiologis, Islam juga hadir dalam wajahnya yang beragam. Karena itu, tepat sekali yang dikatakan Aziz Azmah, intelektual asal Suriah, "Secara sosiologis kita tak bisa bicara tentang satu Islam, tapi Islam-Islam" (Islams and Modernities, 1996). Ada banyak Islam di dunia modern: ada Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam FPI, IslamWahabi, Islam Laskar Jihad, Islam Liberal, dan lain-lain.
Sejak masa Nabi hingga sekarang ini, Islam selalu hadir dalam warnanya yang beragam. Adanya warna-warni dalam Islam bukanlah sesuatu laknat atau bencana yang harus disesali dan bahkan dikecam. Tapi, sebaliknya, seperti yang dikatakan Nabi, harus disyukuri, karena merupakan bagian dari rahmat Allah (ikhtilafu ummati rahmah).
Al-Quran sendiri dengan gamblang mengingatkan kita semua bahwa banyaknya wajah Islam adalah merupakan "kesengajaan" yang dibuat oleh Allah. Dalam surat Hud (11) ayat 118-119 dan surat al-Ma'idah (5) ayat 51, dengan sangat jelas Allah menolak ketunggalan (wahidah) dan sebaliknya menciptakan keanekaragaman (mukhtalifin).
Banyaknya keragaman ini pastilah ada hikmah besar yang harus dipelajari oleh kaum muslim, dan bukannya malah ngotot menolak keragaman Islam dengan memaksakan satu versi Islam. Penolakan terhadap Islam-Islam adalah penolakan terhadap sunah yang telah digariskan oleh Allah dalam Al-Quran.


Seperti kita mengetahui juga pada cahaya yg satu ketika menimpa prisma akan adanya warna warni pelangi. Ketika cahaya yg satu itu kita maknai dengan Ayat Al-Qur'an yg menyatakan sungguhnya sangatlah mudah untuk Yang Kuasa menciptakan satu umat, tetapi diciptakannya berbeda beda untuk berlomba2 dalam kebaikan, semakin yakin akan warna warninya kepasrahan kita kepadanya.

"Setiap bayi dilahirkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tu­a-nyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Mungkin hadiths ini juga berlaku terhadap Mazhab2 ataupun aliran yg ada di dalam agama kita. Walahualam.

Jalaludin Rahmat dalam sebuah interview tentang buku barunya "Islam dan Pluralisme" juga menjawab sbb:
"Saya ingin memberi tunjangan atau support teologis dengan rujukan Alqur'an langsung untuk membenarkan pluralisme. Sebab, kalau bicara soal Islam, rujukan utama kita adalah Alqur'an. Karena itu, bab pertama buku itu bicara soal ayat-ayat Alqur'an tentang pluralisme. Jadi buku ini ingin memberi argumentasi keislaman tentang pluralisme dan seakan-akan menjadi sebuah jawaban terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kalau MUI mengatakan pluralisme haram, please tunjukkan dalilnya dari Alqur'an dan hadits. Kalau saya yang mendukung pluralisme ditanya dalil bisa dibenarkankannya pluralisme dalam Islam, nah buku inilah jawabannya."

Mari dalam ke warna warnian, kita berbhineka tunggal ika dalam kuasa dan takdirnya ilahi.

Selamat hari raya Idul Fitri

About Me