my-submission

every man entitled to his own way to submit, this is my way.

Friday, July 27, 2007

Fitrah Warna Warni

Kita masih ingat dengan jelas di tahun 2002 ada media yg menayangkan iklan Islam Warna Warni di somasi:

"Mengapa orang meributkan somasi kami. MMI tak melakukan anarki. Somasi inilah jalan yang diberikan demokrasi. Berbeda halnya bila kami sudah menjadi penguasa." Demikian dalih Fauzan al-Anshari ketika banyak pihak yang menyesalkan sederet somasi yang ia layangkan menyangkut iklan Islam Warna-warni, iklan kondom dan entah apa lagi. Benar bahwa setiap kelompok dan individu berhak menyampaikan keberatan atas tayangan suatu iklan dengan membuat somasi kepada pihak terkait. Dalam kasus ILM KIUK, MMI tidak melayangkan ketidaksetujuannya pada KIUK, tak juga kepada Garin Nugroho dan SET sebagai pembuat, tapi mensomasi media yang menayangkan ILM tersebut. (Koran Tempo, 28 September 2002)

Namun pada tahun ini juga banyak organisasi Islam cukup intensif untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat kalau penetapan 1 Syawal yg berbeda juga merupakan warna warni dalam Islam yg memberikan rahmat dalam perbedaan.

Meskipun terjadi perbedaan dalam pelaksanaan hari raya Idul Fitri, Ketua MPR RI Hidayat mengingatkan umat Islam agar tetap menjaga tali silaturahmi.
"Jangan sampai perbedaan ini menjadi bibit yang membuat umat Islam saling menjauh dari silaturahmi," kata Ketua MPR Hidayat Nurwahid ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu (22/10).
Menurutnya, perbedaan ini harus disikapi secara bijaksana oleh umat Islam sehingga tidak menimbulkan sikap yang kurang simpatik kepada masing-masing pihak yang melaksanakan Idul Fitri secara tidak bersamaan tersebut.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menyesalkan masih adanya sejumlah pihak yang bersikap berlebihan menyikapi perbedaan pelaksanaan Idul Fitri 1427 Hijriyah terutama di kalangan bawah pemerintahan.
"Saya mendapat informasi ada bupati yang melarang penggunaan alun-alun untuk salat Id pada Senin (23/10) ini dengan alasan harus ikut Idul Fitri yang ditetapkan oleh pemerintah," kata Din Syamsuddin usai menyampaikan ceramah Salat Id di Lapangan Blok S Jakarta Selatan, Senin.
"Oleh karena itu saya berpendapat sebaiknya kapan-kapan pemerintah tidak perlu ikut campur. Jangan mengurusi masalah seperi itu, sebab nantinya akan ada sikap-sikap over acting di tingkat bawah," tegasnya.
Meski demikian, Din mengimbau pada semua pihak untuk tidak memperuncing perbedaan dan justru harus mencari persamaan, serta sebaiknya dikaitkan dengan masalah Khilafiyah.


Saya ingin mengutip tulisan saudara Luthfi Assyaukanie

"Islam Warna-warni" adalah sebuah ungkapan yang ditemukan tak hanya berdasarkan pilihan eksotisme kata-kata semata, tapi juga berdasarkan dalil teologis (kalamiyyah), fikih (fiqhiyyah), maupun sosiologis (ijtimaiyyah) yang dirujuk ketika rancangan iklan itu dibuat. Dengan kata lain, slogan ini merupakan hasil renungan atas doktrin esensial Islam dan kenyataan sejarah Islam itu sendiri.
Secara teologis, Islam selalu hadir dalam bentuk yang tidak pernah seragam. Sejak wafatnya Nabi Muhammad, umat Islam selalu dihadapkan pada beragamnya keyakinan (akidah) umat Islam, baik mengenai ketuhanan, kenabian, wahyu, maupun persoalan-persoalan ghaybiyyat lainnya. Secara teologis, Islam selalu hadir dalam wajahnya yang beragam, dalam bentuk Murjiah, Syiah, Khawarij, Muktazilah, maupun Ahlussunnah.
Tradisi keilmuan fikih juga memiliki keragaman wajah Islam yang tak ada tara bandingnya. Fikih selalu memegang tradisi aktsaru min qaulayn (lebih dari dua pendapat), yang berarti selalu ada kemungkinan kebenaran lain di luar kebenaran yang kita yakini.
Sebuah hadis Nabi mengatakan: la yafqahu al-rajulu hatta yara fi al-qur'ani wujuhan katsiratan (tidak dianggap faqih seseorang sehingga ia melihat banyak dimensi dalam Al-Quran). Perbedaan pendapat adalah inti dari ajaran fikih. Karenanya, kita tak bisa berbicara tentang satu Islam secara fikih.
Secara sosiologis, Islam juga hadir dalam wajahnya yang beragam. Karena itu, tepat sekali yang dikatakan Aziz Azmah, intelektual asal Suriah, "Secara sosiologis kita tak bisa bicara tentang satu Islam, tapi Islam-Islam" (Islams and Modernities, 1996). Ada banyak Islam di dunia modern: ada Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam FPI, IslamWahabi, Islam Laskar Jihad, Islam Liberal, dan lain-lain.
Sejak masa Nabi hingga sekarang ini, Islam selalu hadir dalam warnanya yang beragam. Adanya warna-warni dalam Islam bukanlah sesuatu laknat atau bencana yang harus disesali dan bahkan dikecam. Tapi, sebaliknya, seperti yang dikatakan Nabi, harus disyukuri, karena merupakan bagian dari rahmat Allah (ikhtilafu ummati rahmah).
Al-Quran sendiri dengan gamblang mengingatkan kita semua bahwa banyaknya wajah Islam adalah merupakan "kesengajaan" yang dibuat oleh Allah. Dalam surat Hud (11) ayat 118-119 dan surat al-Ma'idah (5) ayat 51, dengan sangat jelas Allah menolak ketunggalan (wahidah) dan sebaliknya menciptakan keanekaragaman (mukhtalifin).
Banyaknya keragaman ini pastilah ada hikmah besar yang harus dipelajari oleh kaum muslim, dan bukannya malah ngotot menolak keragaman Islam dengan memaksakan satu versi Islam. Penolakan terhadap Islam-Islam adalah penolakan terhadap sunah yang telah digariskan oleh Allah dalam Al-Quran.


Seperti kita mengetahui juga pada cahaya yg satu ketika menimpa prisma akan adanya warna warni pelangi. Ketika cahaya yg satu itu kita maknai dengan Ayat Al-Qur'an yg menyatakan sungguhnya sangatlah mudah untuk Yang Kuasa menciptakan satu umat, tetapi diciptakannya berbeda beda untuk berlomba2 dalam kebaikan, semakin yakin akan warna warninya kepasrahan kita kepadanya.

"Setiap bayi dilahirkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tu­a-nyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Mungkin hadiths ini juga berlaku terhadap Mazhab2 ataupun aliran yg ada di dalam agama kita. Walahualam.

Jalaludin Rahmat dalam sebuah interview tentang buku barunya "Islam dan Pluralisme" juga menjawab sbb:
"Saya ingin memberi tunjangan atau support teologis dengan rujukan Alqur'an langsung untuk membenarkan pluralisme. Sebab, kalau bicara soal Islam, rujukan utama kita adalah Alqur'an. Karena itu, bab pertama buku itu bicara soal ayat-ayat Alqur'an tentang pluralisme. Jadi buku ini ingin memberi argumentasi keislaman tentang pluralisme dan seakan-akan menjadi sebuah jawaban terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kalau MUI mengatakan pluralisme haram, please tunjukkan dalilnya dari Alqur'an dan hadits. Kalau saya yang mendukung pluralisme ditanya dalil bisa dibenarkankannya pluralisme dalam Islam, nah buku inilah jawabannya."

Mari dalam ke warna warnian, kita berbhineka tunggal ika dalam kuasa dan takdirnya ilahi.

Selamat hari raya Idul Fitri

Impian Raja yang Hilang

Ada seorang Raja di raja di negeri nun jauh disana. Sang Raja
Adidaya, begitu rakyatnya memanggilnya. 7 Samudera telah dikuasai, 5
benua telah dihutangi, sehingga semua masyarakat yang tinggal diplanet
bumi ini, setiap harinya tergantung oleh emas yang di cap mata uang
Raja di raja ini. Begitu kuasanya hingga setiap malam beliau sangat
takut untuk kalau saja kekuasaannya hilang, walaupun seandainya hanya
hilangnya satu helai rambut saja.

Karena kekuatan Sang Raja Adidaya ini, hampir semua rakyat dan
jajahannya takut. Karena salah bertindak dan senyum tanpa arti saja,
bisa bisa di cap teroris, dan akibatnya di asingkan 7 tahun di padang
pasir, dan di lempari senjata dari angkasa setiap malamnya. Namun
kekuatan ini tidak membuat Sang Raja tenang hidupnya. Setiap malam
dia hanya tidur tujuh setengah menit. Itupun mengigau. Dokter,
dukun, orang sakti, arwah gentayangan pernah dipanggil, ataupun ayat
ayat suci dibacakan oleh 7 juta pendeta dalam tujuh hari tujuh malam.
Namun tetap Sang Raja di raja tidur dengan gelisah, itupun kalau bisa
tidur.

Namun di suatu malam, di hari ketujuh bulan yang dipercayai suci, sang
Raja tiba tiba bisa tidur dengan nyenyaknya selama 7 jam. Hal ini
baru dia alami setelah 17 tahun lamanya dia di puncak singasana yang
diwariskan ayahnya. Beliau bermimpi. Mimpi yang indah sekali.
Sekali kali dia tersenyum, bahkan tertawa terdengar diantara dengkuran
tidurnya. Hingga pada subuh hari, beliau dibangunkan oleh suara kokok
ayam tujuh kali. Beliau bangun dengan segar dan bahagia melihat tujuh
permasyurinya masih tidur dengan lelapnya.

"PERMAISYURIKU BANGUN!!!" tertawa sang Raja.

Permaisyuri-permaisyuri bangun dengan terkejut. Karena mereka baru
pertama kali milihat Raja bangun dengan begitu bahagianya. Kemudian
Sang Raja, duduk diatas tempat tidurnya ingin bercerita tentang impian
yang membuatnya bahagia…

Namun, sang Raja terlihat murung… Beliau lupa apa yang di impikan
semalam, lupa, naada, zip, blank, pop, hilang…

Tujuh hari lewat, beliau murung dan tidak tidur. Semua permaisyuri,
menteri, jenderal disuruhnya memikirkan impian yang hilang yang
membuat Sang Raja bahagia. Namun tidak ada yang bisa menemukan impian
yang hilang itu. Sampai, pada malam ke tujuh tersebut, sang isteri ke
tujuh memberikan usul yang terbaik untuk dilaksanakan.

Usul tersebut adalah membuat perlombaan kepada masyarakat luas, dengan
hadiah harta dari tujuh kota terkaya yang dimiliki sang Raja. Namun
apabila salah, si penebak impian tersebut akan di eliminasi untuk
selama lamanya.

Setelah tujuh hari tidak ada yang berani menerima tantangan tersebut,
datang seorang saudagar. Bertubuh besar, berjenggot panjang,
berhidung bengkok. Nama tidaklah penting, toh kalau salah dia akan
mati… "Sang Raja diraja, saya ingin menebak impian yang hilang dari
Sang Raja," katanya. "Dan saya bersedia di eliminasi kalau saya
salah."

Setelah di persilahkan, saudagar tersebut bercerita, "Sang Raja
bermimpi diberi kesaktian untuk menyetuh batu apa saja menjadi emas,
air apa saja menjadi anggur yang terlesat, wanita apa saja yang
tersentuh menjadi bidadari."

Sang Raja termenung, coba mereka reka apakah impian seperti itu yang
akan membuatnya bahagia, kemudian, mengatakan, "algojo, bawa orang
itu keatas panggung."

Setalah saudagar tersebut diatas panggung, Sang Raja memerintahkan
sang Algojo untuk mengeliminasi saudagar tersebut. Terputuslah senyum
pahit saudagar tersebut dari tubuhnya yang bulat itu, jatuh dan
dimasukan ke koper kecil yang disediakan algojo.

Tujuh malam berlalu, belum ada yang berani lagi untuk menantang
sayembara "menebak impian Sang Raja." Akhirnya, si permasyuri ke
tujuh yang paling cantik dan pintar diantara isteri-isteri raja yang
lainnya memberikan idea lagi. Idenya simpel, untuk dinaikkan
hadiahnya. Raja puas dan akhirnya mengumumkan. Bagi siapa yang bisa
menebak impian yang membahagiakan Sang Raja akan ditambahkan hadiahnya
dengan diberikan seluruh permaisyurinya kecuali permaisyuri ke tujuh.

Tujuh jam setelah pengumuman tersebut, datang seorang Kolonel nekat.
Dengan modal badan besar dan rambut kriting serta suara besar, sang
Kolonel memberanikan untuk menebak impian Sang Raja. "Wahai Raja,
saya tahu yang di impikan Sang Raja pada malam itu. Raja di raja
bermimpi 7 musuh terbesar Raja yang Raja panggil sebagai teroris itu,
mati di kutuk 7 dewa penguasa alam. Dan kematian tersebut akan
membuat semua musuh musuh paduka untuk tekuk lutut menyerahkan diri
dan kekayaannya kepada paduka tercinta."

Sekali lagi Sang Raja termenung, coba mereka reka apakah impian
seperti itu yang akan membuatnya bahagia, kemudian, mengatakan,
"algojo, bawa orang itu keatas panggung."

Dengan ketakutan yang sangat sang Kolonel nekat itu, rambutnya menjadi
lurus diatas panggung. Dan sang Raja berkata, "Kolonel, sudah kuduga
dari mukamu yang senep itu, kalau kamu pasti jawab yang salah.
Algojo, segerakan sebelum penonton berlinangan air mata."

7 bulan berlalu, sang raja matanya sudah tidak bisa melotot lagi
karena tidak tidur sedetik pun. Bicaranya mulai terpatah patah dan
mengulang semua yang pernah dikatakannya. sang raja frustasi, sedih
dan mulai putus asa. sehingga sang raja melakukan sayembara yang
terakhir.

"wahai rakyat-rakyatku kaum kaum melarat dan kaum kaum tertidas, aku
punya punya tantangan dengan dengan hadiah yang terbesar yang terbesar
yang pernah pernah diberikan berikan oleh aku, aku seorang raja yang
yang sangat kikir dan dan sangat sangat zalim."

"bagi siapa yang bisa, bisa memberi tahu aku, impian waktu, waktu
hari itu, hari itu yang membuat ku bahagia, akan kuberikan negara
adidaya ini untukmu, akan kulepas mahkotaku, lepas mahkota dan dan
akan kupakaikan, kupakaikan ke kepalamu, ke kepalamu," sang raja
berkata dengan gugupnya.

Tiba tiba seorang petani miskin mengangkat tangannya, "saya ingin
memberitahu apa yang Sri Paduka impikan waktu itu."

Dengan pakaian rombeng namun bersih, petani tua kurus kering itu,
memulai pembicaraannya, "Sri Paduka, impian indah dan suci sebenarnya
tidak pernah hilang dari muka bumi ini. Setelah impian itu dilahirkan
dia hanya berpindah pindah dari orang satu ke orang yang lain yang
mendambakan kebahagiaan hakiki. Yang Sri Paduka impikan waktu itu
berasal dari saya yang tertindas ini. Impian sri paduka adalah,
menjadi petani miskin, yang mepunyai sebidang tanah milik lintah darat
internasional, namun tanah itu subur sekali, apa saja yang ditanam
pasti tumbuh menjadi lebat."

Si Petani meneruskan ceritanya, "di saat panen tiba, Sang Petani
tersebut, ketika sedang lelah di tengah ladang , tiba tiba melihat
datang sebuah rombongan pasukan pengawal raja. Dengan perlengkapan
super modern, sang Petani sudah mulai gentar melihat rombongan
tersebut menuju ke tempat dimana dia sedang bercocok tanam."

sang raja mendengarkan cerita tersebut dengan hening, dan para
penonton juga tegang menunggu keputusan eliminasi apabila si Petani
ini salah. "Ketika rombongan itu sampai, turunlah seorang Raja diraja
yang sangat santun, dia mendekati petani tersebut dan diberikannya
sebuah cangkir teh yang rasanya seperti air surgawi. Dan di usapnya
keringat petani tersebut dengan jubah sutera emasnya. Dan kemudian
Raja terebut membuka tikar dan duduk bersama petani sambil makan
makanan seadanya. Mereka bercerita tentang kesulitan kesulitan yang
dihadapi rakyat kecil, dan sang raja dengan penuh kasih sayang
memberikan solusi serta berjanji akan berbuat yang terbaik untuk
membangun negara dan menegakkan keadilan. Dan berjanji akan
menyebarkan ekonomi kasih sayang kepada semua masyarakatnya. Sang
Raja pun akhirnya berikrar akan mengorbankan seluruh hartanya untuk
kemajuan rakyatnya. Sore itu, Matahari pun enggan untuk tenggelam,
dan langit birunya dihiasi tujuh pelangi yang menjadi kemah dari
obrolan Sang Raja dan Sang Petani itu. Sungguh membahagiakan," Sang
Petani menakhiri cerita tersebut.

sekali lagi sang raja yang sudah lemah termenung, coba mereka reka
apakah impian seperti itu yang akan membuatnya bahagia, kemudian,
sambil tersenyum mengatakan, "algojo, bawalah orang itu keatas
panggung."

Petani kurus itupun dibawa algojonya. Penonton pun sudah siap siap
dengan tissue.

"Qanaah adalah rejeki yang terbesar yang diberikan oleh Allah SWT"
hadis Nabi SAW.
Qanaah adalah rasa puas dengan apa yang dipunyai.

Paranormal No, Islam Yes

Sedikit renungan awam yang saya ingin share dalam Hari Idul Adha ini.
Mohon koreksinya apabila saya salah.

Beberapa hari ini ada berita yang saya baca dari Detik.com yang selalu
menjadi bahan renungan saya sebelum tidur. Berita itu simple namun
penuh makna untuk saya. Sebuah kisah dimana seorang gadis karyawan
bank, tiba-tiba hilang, entah di culik, di bunuh atau mengaburkan
diri. Kisah menariknya dimulai dari headlinenya "Orang Tua dari ...
Menolak Polisi menggunakan Jasa Paranormal."

Saya membayangkan dalam situasi demikian paniknya, saudara kita (yg
kebetulan beragama Nasrani ini), ternyata konsisten dengan ajaran
Nabi2 kita sebelumnya (dari Adam AS, Ibrahim AS, dll) untuk selalu
menyerahkan diri secara total kepada yang diatas, ketika sampai
kedalam sebuah pencarian makna yg hakiki. Bukan artinya orang tua itu
tinggal diam saja, saya yakin dia bersedia mengorbankan seluruh harta
dan tenaga, bahkan nyawanya untuk mendapatkan putri yang dicintainya.
Tetapi dia tidak menyerah kepada Tahyul yang membawa dirinya kepada
suatu yang tercela dengan akal. Dia menolak secara total paranormal
yang kebanyakan bersifat mistis itu. Dia lebih baik Pasrah kepada
yang Kuasa diatas usaha totalnya mencari putrinya yang hilang itu.

Demikian juga dengan kisah Nabi Ibrahim, ketika mendapat petunjuk
untuk mengorbankan anaknya, belliau tidak mengikuti kebudayaan yang
kuat pada saat itu, seperti mencari dukun ataupun orang sakti yang
ada, meminta petuah ataupun tumbal. Beliau menuruti sebuah kepasrahan
yang beyond our current comprehension. Namun apa yang kita dapatkan.
Ternyata dibalik penyerahan diri secara total (Islam-Total
Submission), terdapat sebuah akal logika yang berbalik kepada kegiatan
yang humanist. Islam mengajarkan ternyata tidak ada tumbal, tidak ada
seserahan, tidak ada pengorbanan percuma atas nama diluar nama Allah
semata. Semuanya berakhir kepada kegiatan sosial, sehingga anjuran
adanya ragam agama untuk kita "berlomba lomba dalam kebaikan" menjadi
fakta yang nyata.

Balik kepada kisah konsistensi orang tua dari karyawati bank yang
hilang tersebut, apapun simbol (KTP agamanya) tersebut, saya menaruh
simpati total karena dalam posisi seperti mereka, saya sendiri tidak
dapat membayangkan apa yang saya bisa lakukan. Semoga doa saya pada
lebaran haji ini membantu meringankan penderitaan mereka dan terima
kasih saya kepada mereka untuk meninspirasi supaya kita selalu
menyerahkan diri kepada Allah, dan menjalankan hanya yang masuk diakal
saja seperti tantangan Allah kepada umat pengikut Nabi Muhammad SAW (Q
2:111 - Tafsir Al-Azhar).

Wallahualam,

JSJ
Semoga renungan pendek ini dapat berkenan dihati saudara2 saya yang
merayakan Harai Raya Idl Adha ini.

Born Again Muslim

Born Again Mosleem
(Wawancara Imaginer dengan Malaikat Kecil)


2 Hari sebelum Idul Fitri, Subuh baru kulewati, termenung sunyi,
hampa dan tersenyum. Tiba tiba aku melihat seorang anak kecil
berambut hitam memakai seperti baju Pakistan di sudut ruang kamar ku.
Tersenyum, dan dari tubuhnya mengeluarkan wangi semerbak melati.
Giginya putih bagaikan mutiara, dan pancaran matanya seperti bulan
purnama.

Kecil: Assalamu'alaikum wahai jiwa yang kosong.

Aku: Mu'alaikum salam wahai anak kecil.

Kecil: Wah mau jadi bayi lagi yah?

Aku: Bagaimana bisa, yang jelas saya akan punya bayi lagi. Insya
Allah bulan Maret tahun 2000 ini.

Kecil: Well, kan kamu sudah puasa dan sudah taubat jadinya seperti
bayi lagi dong. Born Again Mosleem.

Aku: Wah kok kamu kaya orang Nasarani sih ada Born Again Christian
sekarang ikut-ikutan Born Again Mosleem. Kreatif dikit dong.

Kecil: Nah yang kaya gini nih. Maksud saya kan setelah puasa
seharusnya kita kembali ke fitrahnya. Kita mengintrospeksi apa yang
sudah kita lakukan dan apa yang ingin kita lakukan dengan fitrah yang
baru, semangat baru dong! Lagian pula kan kamu pasti sudah sering
dengar kalau setelah bulan Ramadhan itu manusia seperti dilahirkan
kembali. Tetapi saya tahu kok dari senyum sinis kamu, memang banyak
juga yang puasanya cuma lapar dan haus saja tetapi belum ke tahap born
again muslim. Nah disini yang kita mesti belajar dari saudara kita
yang beragama Kristiani, dimana mereka mengenal gerakan born again.
Ini seharusnya lebih mudah untuk dilakukan kaum muslim, karena kita
sebelum born again kita melewati periode 30 hari lamanya menyabarkan
diri menjauhkan nafsu duniawi dll. Setelah born again, kamu harusnya
seperti seorang professional baru dapat MBA ditugaskan di perusahaan
yang sudah bagus.

Kaget juga didalam hatiku, anak kecil ini jangan-jangan orang halus
yang ingin mencobaku. Bulu kuduku merinding dibuatnya.

Kecil: OK, sekarang konsep born again ini kamu harus terapkan. Ingat
tidak kamu pernah baca bukunya Ali Syariati yang berjudul Sejarah Nabi
dari Hijrah hingga Wafatnya?

Aku mengangguk dan memikir bagaimana dia tahu tentang buku yang pernah
ku baca di tahun 1995 itu.

Kecil: Disitu kan Ali Syariati memperlihatkan Hijrahnya Nabi dan
sahabat-sahabatnya bukan hanya hijrah secara badaniah saja tetapi juga
rohaniah. Secara mental yang baru mereka datang ke Madinah dan
bersemangat menghidupkan kehidupan Islami yang menghormati suku dan
agama lain dan membangun kota bersama. Ali Syariati juga mengajak
pembaca untuk melakukan hijrah rohani didalam diri kita masing-masing
seperti kita ini baru masuk ke kota Madinah dan siap membangun Islam,
agama yang lurus di sisi Allah ini.

Aku: Cil (baca Kecil), tapi kan itu dulu, coba lihat sekarang
saudara-saudara kita banyak sekali yang ditindas di Ambon, Bosnia dll.
Apakah itu tidak cukup. Di Masjid saja minggu lalu Ustadnya
marah-marah dan teriak mengenai Jihad fissabilillah. Hayo!

Kecil: Perang itu adalah jalan terakhir yang ditempuh. Tapi ingat
tidak? Ada salah satu surat di Al'Baqorah tentang diciptakannya agama
bermacam-macam sehingga kamu dapat berlomba-lomba dalam kebaikan. Nah
ini kan fair play rulenya dari Allah. Kalau udah ada rule of the
gamenya, kita hadapi dunia ini seperti berlomba berbuat kebaikan.
Jangan mentang-mentang agama lain memberi makan kaum kita dan kita
bilang membujuk pengikut Islam untuk berpindah agama, tetapi
sebaliknya kita harus lebih perduli dari kaum lainnya dalam berbuat
kebaikan. Masa dijaman Madinah, Islam menjadi panutan dalam berbuat
kebaikan kepada kaum Nasrani dan Yahudi, sekarang malahan kamu
mengeluh soal itu. Berbuat dong.

Aku dibuatnya malu, kakiku sedikit kesemutan.

Kecil: Katanya kamu MBA tapi kok tolol banget sih. Kan di kelas MGMT
100 (baca management level awal) diajari, if you don't take care your
customers, somebodyelse will. Dalam konsepnya fair play nya Allah
ini memungkinkan. Dan anda sebagai Khalifah, bukan hanya Hamba, itu
artinya anda itu wakilnya Allah diatas muka bumi. Anda punya saham
terhadap Surga yang dijanjikanNya. Kalau begitu anda harus dong
service customernya Allah dan calon prospektus. Dan servicenya itu
sekali lagi dengan kebaikan dan ajaran-ajaran lainnya, seperti amal,
sopan, dan lain lain.

Aku: Iyah tapi kan mereka banyak duitnya, ada dari kita yang kaya
tapi pelit. Startnya dari mana dong untuk kompetisi dalam berbuat
kebaikan dengan mereka.

Kecil: Kamu sih apa apa diukurnya pakai uang. Coba perbuatan baik
itu banyak yang gratis modalnya tapi besar pahalanya. Contohnya
menjaga kebersihan, mengajarkan ilmu pengetahuan, menuntun orang buta,
dan yang paling gampang senyum.

Aku: Yah Ok yang itu bisa, tapi kita nggak usah muna deh modal kan
juga perlu untuk mengejar ketertinggalan umat Islam dalam perlombaan
itu.

Kecil: Ada satu pepatah jaman doeloe, kalau mau kasih si miskin
jangan ikannya tapi pancingnya. Kita harus set up skala prioritas.
Dalam hal ini pertama adalah Ukuwah Islamiyah dahulu. Kalau kita
bersatu saling menghormati sesama muslim yang percaya dalam Tauhid
melebihi dari kita bertoleransi dengan agama lain. Kedua prioritas di
bidang Iman dan Taqwa. Ketiga di bidang Iptek, nah ini yang penting
perannya. Pakai dong Internet ataupun sumbangkan buku-buku dan
komputer. Kalau sumber daya manusianya udah top ditambah asas imtaq,
wah keren kan, nah itu baru namanya born again mosleem.

Kupejamkan mataku dan dalam hatiku mengatakan bener juga si kecil ini.
Ketika kubuka mataku ternyata dia sudah tidak ada di pojok, tetapi
kudengar di kejauhan ada yang mengucapkan Surat Wal' Asr.

Demi Masa, seungguhnya manusia itu dalam kerugian, ……kecuali mereka
yang beramal soleh dan saling nasehat menasehati dalam ke benaran dan
dalam kesabaran.

Suara itu hilang tetapi wanginya masih ada. Am I a Born Again
Mosleem? Wallahualam.

JSJXYZ Feb. 2000

Tiga Ekor Kambing

Renungan Tiga Ekor Kambing

Pada suatu masa ada tiga ekor kambing kakak beradik terpisah dari ibu
bapaknya. Si A diambil oleh seorang raja yang soleh dan dididik untuk
bertingkah laku sopan santun dan ditugaskan untuk menghias kebun Raja
yang dimuliakan rakyatnya. Si B di perlihara oleh seorang jendral
koruptor yang zolim, dibuatnya untuk menjadi gemuk dan dipamerkan
untuk dipotong pada hari raya korban sebagai unjuk rasa kebajikan si
koruptor dimata orang yang tertindas olehnya. Si C, terlantar sampai
pada suatu waktu ditabrak oleh truk dan bangkainya terhampas kesungai
dibawa arus entah kemana.
Sewaktu mereka semua sudah mati mereka bertemu di alam akhirat. ABC
menanyakan tentang kedudukan siapa yang paling beruntung dimata Yang
Kuasa. A mengklaim dirinyalah yang paling mulia dikarenakan
pendidikannya dan loyalitasnya dalam menjaga taman raja dengan tekun
dan berbakti. A tidak pernah lalai dalam melaksanakan tugasnya. B
menjawab walaupun sejelek-jeleknya dia, dan diberimakan dari uang
haram, tetapi akhir hayatnya dia disantap oleh fakir miskin yang
begitu mendambakan kelezatannya. C, juga tidak mau kalah dan bilang
selama masa hidupnya dia sudah selalu susah dan sial, maka akan tidak
adil sama sekali bila Yang Maha Adil tidak memberi tempat yang enak di
alam akhirat ini. Jawabannya mungkin tidak pernah kita temukan karena
pertanyaan tersebut juga hanya berandai-andai.
Pertanyaan serupa juga pernah ditanyakan al-Ashari kepada gurunya
yang seorang Mutazilah pada tahun 913 Masehi. Pertanyaan yang
terkenal pada dunia phillosophy tersebut adalah seperti ini
(diterjemahkan dari Cyril Glasse), "Ada sebuah kisah tiga kakak
beradik, yang pertama seorang beriman dan berbuat baik, yang kedua
adalah pendosa, dan yang ketiga meninggal sewaktu bayi. Apa yang akan
terjadi padanya?" tanya al-Ashari. Gurunya menjawab, "yang beriman ke
Surga, yang pendosa ke Neraka, dan yang meninggal sewaktu bayi ke
Limbo (tempat antara keduanya)." Kemudian si murid melanjutkan,
"karena Mutazillah percaya apa yang dipilih oleh Allah adalah yang
terbaik untuk umatnya, mengapa si bayi meninggal?" "Karena," lanjut
gurunya lagi, "Tuhan tahu kalau si Bayi akan menjadi pendosa besar
pada waktu dewasa nanti, sehingga dimatikan oleh Tuhan pada waktu
kecilnya, sebuah langkah yang bijaksana." Si Murid menutup
pertanyaannya dengan, "Kalau begitu mengapa Tuhan tidak mematikan si
pendosa sewaktu kecil sehingga dia tidak perlu dihukum pada akhir
hayatnya?"
Firman Allah ada yang menyebutkan tidak akan sebuah kaum untuk
berubah tanpa usaha kemauan dari kaum itu sendiri. Ahl-alKitab
(Nasrani) juga mengenal sebuah kisah dari kitab sucinya yang
menceritakan tiga orang pada waktu bersamaan diberi uang oleh
majikannya. Setelah sekian waktu, si A
(consumerism) menyisakan uang tersebut sedikit karena dipakai untuk
membeli makanan; B (risk avoider)menyimpan uang tersebut sehingga
tidak berkurang, dan si C (entrepreneur) mengembalikan uang tersebut
lebih karena ada hasil keuntungan. Di jelaskan disini si C mempunyai
tempat yang lebih mulia dimata si tuan dan juga Tuhan. Pada agama
Islam juga dikenal sebuah hadits yang sangat relevan untuk waktu kini,
yakni apabila kita lebih baik dari kemarin, kita termasuk kaum yang
beruntung, jikalau tetap maka kita kaum yang merugi, dan jika lebih
buruk kita adalah kaum yang celaka. Sudah berapa harikan bangsa
Indonesia keadaannya lebih buruk dari kemarin? Apakah posisi kita yang
sudah terjajah hutang menjadikan kita tergolong sebagai bangsa yang celaka?
Apakah pertanyaan si kambing relevan dengan pertanyaan manusia yang
mencoba untuk menganalisa apakah Tuhan itu Maha Adil? Atau kita sudah
lupa terhadap fungsi manusia sebagai wakil (as contrary to Hamba)
Allah, dimana manusia sebagai mahluk tertinggi dimata Allah diatas
dari mahluk lainnya mempunyai suatu previlige yakni kemerdekaan dalam
menentukan nasibnya sendiri?
Apakah mungkin simbolisme Tuhan untuk batal mengorbankan manusia pada
masa Nabi Ibrahim sebagai tantangan Manusia untuk tidak menjadi
manusia yang terjajah, sehingga si Kambing (domba or whatever) yang
dikorbankan? Apakah dengan demikian sangat tidak relevan untuk kita
menanyakan, meratapkan keterbelakangan kita kepada Allah, karena kita
bukanlah perwakilan ketiga kambing tersebut?

Jawabanya Wallahualam.

About Me